KUTULIS KEBURUKAN DI ATAS PASIR


Kisah di bawah ini mungkin saja pernah anda dengar atau baca dengan berbagai versi. Itu tidak jadi masalah. Yang pasti, saya tetap ingin menuliskannya untuk Anda dengan harapan ada hikmah yang bisa kita petik bersama. Begini kisah selengkapnya:

Dua orang sahabat sedang melakukan perjalanan panjang di sebuah daerah berpadang pasir. Ketika mereka ngobrol sembari beristirahat, lahirlah perbedaan pendapat yang berujung pada perasaan kesal. Rupanya saking kesalnya si A terhadap si B, tanpa terkontrol akhirnya si A menampar pipi si B.

Mendapat perlakuan seperti itu, bukannya membalas tapi si B malah menulis suatu kalimat di tanah berpasir tersebut. “Hari ini aku mendapatkan tamparan menyakitkan dari sahabatku A”, begitulah tulisan yang dibuat si B di atas pasir.

Masih dalam suasana batin yang kurang mengenakkan, dua sahabat tadi melanjutkan kembali perjalanan mereka, hingga ke sebuah sungai yang jernih sekali airnya. Karena masing-masing merasa lelah, keduanya pun sepakat untuk mandi di sungai itu. Sampai suatu ketika, terjadilah musibah yang hampir saja merenggut nyawa si B, jika si A tidak sigap menolongnya dengan menarik kuat-kuat tangan si B agar tidak terseret arus yang begitu deras.

Usai mendapat pertolongan yang sangat berarti itu, si B mengambil sejenis batu apung untuk menuliskan sesuatu di sebuah batu besar. Begini bunyinya : “Hari ini aku mendapatkan pertolongan yang sangat berarti dari sahabatku, sehingga aku terselamatkan dari kematian.”

Usai membaca tulisan itu si A bertanya kepada si B, “Mengapa saat aku menamparmu, kau menuliskannya di atas pasir. Sementara ketika aku menolongmu, kau menuliskannya di atas batu? Mendapatkan pertanyaan itu si B menjelaskan seperti ini, “Ketika kau menamparku, aku menuliskannya di atas pasir, terkandung maksud agar tulisan itu segera hilang disapu angin.”

“Namun ketika kau menolongku, aku menuliskannya di atas batu, agar tetap terbaca sampai kapan pun.” Begitulah kisah seseorang yang ingin mengenang lebih lama kebaikan seseorang dibandingkan dengan keburukannya.

Bagaimana dengan diri kita sehari-hari? Apakah kita sudah memiliki kesadaran untuk mencatat kebaikan seseorang menjadi lebih permanen dibandingkan dengan mencatat keburukannya? Atau yang terjadi justru sebaliknya, kebaikan diri sendiri atau keburukan orang lainlah yang tercatat lebih permanen?

(HD Iriyanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s