POSITIVE 01 : ARTI MENJADI HAMBA TUHAN


  1. Hidup adalah untuk beribadah dan ibadah itu meliputi semua aspek dalam kehidupan sehari-hari asalkan melakukannya benar-benar dengan niat hanya karena Tuhan semata.
  2. Dalam hal melakukan segala sesuatu itu harus dengan upaya yang semaksimal mungkin semampu kita tanpa berfikir hasil akhir karena hasil akhir itu hanya Tuhan yang berhak menentukan.
  3. Hanya Tuhan yang mengetahui apa yang terbaik buat diri kita, kita tidak pernah mengetahui apa yang terbaik buat diri kita sendiri apalagi untuk orang lain, namun kita sering menjadi sombong dengan merasa tahu sehingga seringkali kita jadi memaksakan keinginan kita kepada Tuhan, misalnya memaksakan keinginan kepada Tuhan saat berdo’a, kasarnya bisa disebut dengan mendikte Tuhan dengan do’a-do’a kita.
  4. Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.
  5. Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik semata termasuk ILMU, sehingga kita tidak berhak untuk menguasainya sendirian melainkan harus diamalkan dengan pertanggungjawabannya nanti kelak di hadapan Tuhan. Demikian pula halnya dengan harta sehingga kita harus siap setiap saat bila semua itu nanti diambil kembali oleh Tuhan
  6. Segala sesuatu datang dari Tuhan dan pasti akan kembali pada Tuhan juga sehingga kita tidak perlu merasa stress dalam menghadapi permasalahan. Masalah itu datang dari Tuhan maka solusinya pun hanya kepada Tuhan jua lah tempat kita bertanya dan memohon petunjuk.
  7. Dalam melakukan ibadah itu dilakukan dengan niat karena Tuhan semata bukan mengharapkan surga atau pun pahala karena surga atau pahala itu hanyalah bonus. Jadi lakukan dengan niat Lillaahi Ta’alla bukan Lilbonus atau Lil2 lainnya.

Catatan kaki : Definisi Tuhan adalah Sesuatu yang kita SEMBAH dan PUJA, kita TAKUTI, kita PRIORITASKAN, dan mampu MEMAKSA kita melakukan dan menerima apa yang tidak kita sukai.

(Sumber : Kang Dicky Zainal Arifin)

(Last edited by Akira Toriyama)

POSITIVE 02 : KOTAK BERBUNGKUS EMAS


Alkisah ada seorang Ayah yang menghukum anak perempuannya yang berusia lima tahun. Gara-garanya, anak itu menggunakan satu-satunya kertas kado emas milik keluarga itu untuk membungkus sebuah kotak sepatu. Ceritanya, sang anak ingin memberi hadiah kepada ayah yang sangat dicintainya maka si anak membungkus kotak sepatu dengan kertas kado emas sebagai hadiah yang akan diberikannya. Keesokan harinya anak itu memberikan kotak berbungkus emas itu kepada ayahnya. Begitu si ayah buka, ternyata kosong. Amarahnya memuncak. “Kalau kamu memberikan kado kepada seseorang, di dalamnya harus ada sesuatu!” bentak si ayah. Si anak kecil menangis kemudian berkata “Ayah, kotak itu tidak kosong. Aku meniupkan ribuan cium ke dalamnya sampai penuh,”. Ayahnya menyesal dan terdiam. Beberapa hari kemudian, sebuah kecelakaan merenggut nyawa anak kecil itu. Konon, si ayah selalu menyimpan kotak sepatu itu di sisi tempat tidur seumur hidupnya. Setiap saat ia merasa menyesal dan rindu kepada anaknya, ia membuka kotak itu dan membayangkan ribuan cium yang pernah ditaruh di kotak itu oleh anak perempuannya.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah ini : “Amarah hanya akan menutup mata hati kita, membutakan mata dari cahaya kasih sayang dan pada ujungnya hanya akan membawa kepada penyesalan”

(Sumber : Kolom inspirasi harian Kompas terbit 22 Desember 2010)

(Last edited by Akira Toriyama)

POSITIVE 03 : POLISI HOEGENG


Hoegeng Iman Santoso adalah Kapolri di tahun 1968-1971. Ia juga pernah menjadi Kepala Imigrasi (1960), dan juga pernah menjabat sebagai menteri di jajaran kabinet era Soekarno. Kedisiplinan dan kejujuran selalu menjadi simbol Hoegeng dalam menjalankan tugasnya di manapun.Ia pernah menolak hadiah rumah dan berbagai isinya saat menjalankan tugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim Polda Sumatera Utara tahun 1956. Ketika itu, Hoegeng dan keluarganya lebih memilih tinggal di hotel dan hanya mau pindah ke rumah dinas, jika isinya hanya benar-benar barang inventaris kantor saja. Semua barang-barang luks pemberian itu akhirnya ditaruh Hoegeng dan anak buahnya di pinggir jalan saja. “Kami tak tahu dari siapa barang-barang itu, karena kami baru datang dan belum mengenal siapapun,” kata Merry Roeslani, istri Hoegeng.

Polisi Kelahiran Pekalongan tahun 1921 ini sangat gigih dalam menjalankan tugas. Ia bahkan kadang menyamar dalam beberapa penyelidikan.
Kasus-kasus besar yang pernah ia tangani antara lain, kasus pemerkosaan Sum tukang jamu gendong atau dikenal dengan kasus Sum Kuning, yang melibatkan anak pejabat. Ia juga pernah membongkar kasus penyelundupan mobil yang dilakukan Robby Tjahjadi, yang notabene dekat dengan keluarga Cendana.

Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.

“Begitu dipensiunkan, Bapak kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar Roelani. “Dan kata-kata itulah yang menguatkan saya,” tambahnya. Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri. “Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun,” kata Merry Aditya. Salah seorang anak Hoegeng bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang Didit.

Saking jujurnya, Hoegeng baru memiliki rumah saat memasuki masa pensiun. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun menjadi milik keluarga Hoegeng. Tentu saja, mereka mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor ia kembalikan semuanya.Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga. Karena harus anda ketahui, pensiunan Hoegeng hingga tahun 2001 hanya sebesar Rp.10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500!

Dalam acara Kick Andy, Aditya menunjukkan sebuah SK tentang perubahan gaji ayahnya pada tahun 2001, yang menyatakan perubahan gaji pensiunan seorang Jendral Hoegeng dari Rp. 10.000 menjadi Rp.1.170.000. Tak heran, Almarhum Gus Dur pernah berkata, “Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.”

(Sumber : Bobbyafif)
(Last edited by Akira Toriyama)

POSITIVE 04 : JIKA ANAK HIDUP DENGAN


Jika anak hidup dengan kritikan, mereka belajar untuk mengutuk
Jika anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan
Jika anak hidup dengan rasa takut, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan
Jika anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk merasa menyesali diri sendiri
Jika anak hidup dengan olokan, mereka belajar untuk merasa malu
Jika anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri hati
Jika anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah

Jika anak hidup dengan semangat, mereka belajar percaya diri
Jika anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran
Jika anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi
Jika anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk mencintai
Jika anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar mandiri
Jika anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bagus untuk memiliki tujuan
Jika anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kedermawanan
Jika anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar sebenarnya
Jika anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan
Jika anak hidup dengan baik-baik, mereka belajar menghargai
Jika anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka
Jika anak hidup dengan keramahan, mereka belajar di dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup

(Sumber : Dorothy Law Nolte, born. 1924 – died. 2005)

(Last edited by Akira Toriyama)

POSITIVE 05 : BAI FANG LI


Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya. Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk beribadah. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak. Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi
beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel dan ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Ceritanya dimulai saat hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan menggendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu. Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga. Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu. “Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li. “Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu. Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping. Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu yang tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak. Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah cuaca dingin atau dalam panas matahari yang sangat menyengat tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak
dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu.
Semua guru di sekolah itu menangis……..

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin. Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

(Sumber : Kompasiana)

(Last edited by Akira Toriyama)

POSITIVE 06 : SALAHKAH ANAK JIKA BANDEL ?


Sering kami menerima orang tua yang mengeluh karena anaknya susah diatur dan tidak bisa diam dan duduk tenang. Biasanya orang tua ingin anaknya dapat duduk manis dengan tenang dan tidak banyak bertingkah, terlebih pada saat bertamu, atau di tempat umum.

Kami sangat mengerti bahwa sebagai orang tua, tidak ingin anaknya membuat masalah seperti memecahkan vas bunga milik orang lain pada saat bertamu. Dapat dibayangkan malu rasanya jika anak merusakkan benda milik orang lain. Betapa repotnya kita jika mengalami kejadian semacam itu.

Namun apakah anda sebagai orang tua mengerti apa yang sedang dipikirkan anak anda saat mulai sibuk dan banyak tingkah? Apa yang dirasakannya saat dia menyadari bahwa ia telah merusakkan benda milik orang lain?

Kita bahas lebih dahulu apa yang dipikirkannya saat mulai bandel. Sebagai seorang anak, jika ia dilahirkan dengan kecerdasan tinggi, biasanya setiap anak yang lahir normal sangatlah cerdas, pada saat ia melihat tempat baru dengan berbagai hal yang baru, ia mendapatkan berbagai ide baru. Ide-ide ini membanjiri pikirannya dan mendorongnya untuk segera mencoba dan mempelajari berbagai hal baru yang tampaknya mengasyikkan.

Ia akan melakukan beberapa percobaan seperti: mengamati; apakah situasi keamanannya baik untuk dia bermain? menguji hasil pengamatan; apakah betul-betul aman sesuai dengan kesimpulan pengamatan sebelumnya dengan cara mulai mendekati objek yang baru dikenalnya. Setelah yakin aman, ia akan mulai membiasakan diri dengan cara melakukan pengamatan dari objek baru tadi. Anak akan mencoba menyentuh, bicara, memanggil, teriak, berjalan atau berlari, bahkan teknik-teknik unik yang baru dikuasainya untuk mendapatkan kesimpulan baru. Semua hal tersebut dilakukan secara sistematis sama persis dengan yang dilakukan para peneliti di laboratorium, dan hebatnya anak-anak sudah mengetahui metode penelitiannya. Hasrat serta rasa penasarannyalah yang mendorong dia untuk melakukan penelitian dalam bentuk persiapan permainan.

Adalah wajar jika dalam proses penelitian mereka akan menemukan kesalahan. Secara alami anak akan menangis saat melakukan kesalahan. Misalnya memecahkan vas bunga kristal milik ibunya. Perlu anda ketahui, baik anak maupun orang dewasa saat menemui masalah karena berbuat salah akan berusaha mencari dukungan dengan cara meminta pertolongan. Jika anda yang menemui masalah, anda akan meminta nasehat ke orang yang anda kenal atau siapa saja yang ada. Tetapi anak kecil meminta tolong dengan cara yang berbeda.

Anak kecil akan menangis. Dia belum bisa bercerita bahwa dia melakukan kesalahan dan butuh pertolongan, jadi dia menangis. Saat menangis dia berharap orang tuanya akan datang menenangkan dirinya lalu memberitahu dia apa yang harus dia lakukan. Bagaimana perasaannya saat mengetahui bukan dukungan yang ia dapat tetapi bentakan karena ia ingin tahu sesuatu. Tentu saja ia kecewa.

Jika kekecewaan ini semakin banyak, ia akan berhenti penasaran selamanya. Ia akan berpikir berkali-kali untuk meminta tolong orang tuanya, dia akan sangat benci kesalahan. Maka hilang satu lagi anak cerdas di muka bumi ini.

Jadi sadarkah anda jika anak anda sangat cerdas dengan rasa ingin tahunya?

(Sumber : Bulletin Lembaga Pendidikan Optimasi Anak – Prodigy)

(Last edited by Akira Toriyama)